Senin, 26 November 2018

Segarnya Gudeg Salak, Inovasi Kuliner Ala Pawon Pariyem

Segarnya Gudeg Salak, Inovasi Kuliner Ala Pawon Pariyem

Sekilas gudeg ini tampak sama saja dengan gudeg pada umumnya. Warnanya cokelat kemerahan. Teksturnya yang berair menunjukkan jenisnya adalah gudeg basah.

Namun begitu sesuap masuk ke mulut, ada sensasi rasa yang berbeda dengan gudeg biasa.

Bukan sekedar manis, tapi juga rasa asam yang segar.

Itulah Gudeg Salak, menu andalan sekaligus inovasi dari Pawon Pariyem.
Rumah makan ini berada di Pedukuhan Kadisobo II, Desa Trimulyo, Sleman.

Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh.

Bagaimana mungkin salak dijadikan sebagai makanan berat seperti gudeg.

Namun warga Kadisobo II sudah berhasil mematahkan anggapan tersebut.

Dukuh Kadisobo II, Mawardi menuturkan, ide tersebut muncul lantaran ingin menyelamatkan situasi perkebunan salak saat ini.

"Sekarang salak harganya turun drastis. Tanaman salak pun banyak dibabat habis karena petani merugi.

Jadi saya dan warga berusaha mencari jalan keluar," jelas Mawardi saat ditemui Tribun Jogja beberapa waktu lalu.

Mawardi menuturkan, di tangan pedagang biasanya sekilo salak dari petani akan dihargai Rp1,500,00 per kilonya.

Namun ia berani mematok harga tinggi, yaitu Rp3,000,00 hingga Rp4,000,00 per kilonya.

Strategi ini dilakukan agar para petani tetap mau menanam salak meski saat ini harganya di pasaran sedang jatuh.

"Jadi mereka tetap dapat keuntungan, kebunnya pun tidak perlu dibabat," jelas Mawardi.

Mawardi menyebutkan, tidak ada perbedaan mencolok dalam bahan- bahan untuk membuat gudeg salak.

Semua bumbu masih sama, termasuk lembar daun jati untuk mengeluarkan warna khas gudeg.

Namun perbedaan hanya terletak pada pengolahan salaknya.

Proses tersebut dilakukan agar daging buah salak menjadi empuk dan mudah untuk dikonsumsi.

"Potongan-potongan buah salaknya kita rendam dalam air kapur selama 1 hingga 2 jam supaya jadi kenyal," papar Mawardi.

Berkat inovasi yang tergolong unik, Desa Trimulyo Sleman berhasil memenangkan kompetisi kuliner antar desa wisata.

Gudeg Salak mampu mengalahkan 43 pesaing.

Selain Gudeg Salak, Pawon Pariyem yang dikelola oleh BUMDes Trimulyo tersebut menyajikan olahan salak dalam bentuk lain, seperti Pia Salak, Jenang Salak, Keripik Salak, dan Cocktail Salak.

Salah satu minuman yang diunggulkan di Pawon Pariyem adalah Jaserlak (Jahe-Sereh-Salak).

Disajikan hangat dalam teko, minuman ini cocok bersanding dengan Gudeg Salak.

Seporsi Gudeg Salak sendiri dijual dengan harga Rp 23 ribu, lengkap dengan berbagai lauk pendampingnya.

Suasana makan pun semakin sempurna lantaran Pawon Pariyem dibangun dengan konsep alam yang begitu natural.

Selagi makan, pengunjungnya juga bisa menikmati gemerisik angin dan suara air di kali tepat sebelah bangunan warung.

Usai membuat Gudeg Salak, Mawardi menuturkan pihaknya sedang berusaha mengembangkan menu tersebut ke dalam bentuk lain.

Rencananya, ia bersama warga desa akan membuat varian Gudeg Salak dalam bentuk kering.

Hal ini dilakukan agar menu andalan ini semakin mudah dikenalkan secara luas ke masyarakat.

"Nanti biar bisa dibawa sebagai oleh-oleh," ungkap Mawardi.






[Sumber]

0 komentar:

Posting Komentar