Selasa, 04 Desember 2018

Gunungkidul Layak Menjadi the Next Bali

Gunungkidul Layak Menjadi the Next Bali

Garis pantai Gunungkidul sepanjang 72 km memiliki banyak pemandangan alam dan pantai yang eksotik. Gunungkidul pun sangat berpotensi menjadi the Next Bali di Indonesia.

Pengamat Ekonomi Cyrillus Harinowo mengatakan karakteristik wilayah di Bali tak ubahnya dengan Gunungkidul. Dia menyontohkan kawasan Nusa Dua Bali. Sebelum terkenal seperti saat ini, Nusa Dua juga dikenal sebagai daerah perbukitan kapur, kering dan tidak ada nilainya. Begitu dibangun, menjadi terkenal seperti itu.

"Karakteristik seperti ini dimiliki Gunungkidul. Bahkan karakteristik wisata pantai di Gunungkidul seperti kombinasi wisata Bali dan Labuhan Bajo," katanya di Radika Paradise Villas & Cottages, Gunungkidul, belum lama ini.

Saat ini, kata Harinowo, Gunungkidul memiliki potensi alam yang luar biasa. Saat ini setidaknya ada 22 public beach unik dengan formasi batuan yang berbeda-beda. "Di balik Pantai Indrayanti ada Pantai Trenggole yang masih sepi pengunjung. Belum banyak yang tahu. Padahal pantai tersebut memiliki pemandangan indah dengan pasirnya lembut," katanya.

Selain kaya dengan wisata pantai, Gunungkidul juga memiliki 13 geopark yang telah diakui UNESCO. Kondisi tersebut menunjukkan pariwisata di Gunungkidul layak menjadi The Next Bali atau Bali Baru. "Di pantai sepanjang ada satu bukit Belgi, dulunya milik dokter asal Belgia. Rencananya akan dibangun vila tapi tidak jadi. Padahal pemandangannya bagus. Masih banyak potensi alam yang dimiliki dan belum digali," kata Komisaris Independen BCA itu.

Menurutnya, Gunungkidul tengah bertranformasi untuk mengembangkan pariwisatanya. Mengutip data perkembangan pariwisata Gunungkidul yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan ke Gunungkidul terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2011, jumlah wisatawan mancanegara dilaporkan mencapai 1.299 orang, sementara wisatawan nusantara menunjukkan tren positif sebanyak 615.000. "Itu kalau datanya dilihat dari pembayaran retribusi," kata Harinowo.

Pada tahun 2016 jumlah wisman yang berkunjung meningkat tiga kali lipat dengan total 3.891 orang, sementara jumlah wisnus menyentuh angka 2,9 juta orang.

Untuk menunjang pariwisata di Gunungkidul, ada sejumlah hal yang harus dilakukan pemerintah. Mulai dari penataan kualitas SDM Gunungkidul hingga penataan spot-spot pariwisata. "Kegiatan pelatihan-pelatihan khusus kepada masyarakat dan para pelaku pariwisata harus dilakukan," katanya.

Selain itu, pengembangan wisata di Gunungkidul juga harus didukung dengan perencanaan yang matang dan dana investasi yang memadai. Berkaca pada pengembangan wisata di Lombok, pemerintah menggelontorkan dana Rp15 triliun. "Dari jumlah itu, baru Rp4 triliun yang dipakai. Tapi Lombok sudah banyak dikunjungi wisatawan," katanya.

Keyakinan Harinowo terkait pengembangan destinasi wisata di Gunungkidul bukan tanpa alasan. Saat ini kata Harinowo, pemerintah mengebut proses pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) agar bisa beroperasi pada April 2019 mendatang.

Pemerintah juga membangun akses besar-besaran ke pesisir Selatan Gunungkidul melalui Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Salah satu tujuannya, kata Harinowo untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. "Kalau JJLS beroperasi, tentu akan memperpendek waktu perjalanan dari NYIA. Kalau dari Jogja jarak tempuh bisa tiga jam, kalau dari NYIA lewat JJLS ke sini jarak tempuh hanya sekitar satu seperempat jam saja," katanya.

Saat ini Pemkab Gunungkidul menyiapkan masterplan yang dibangun secara tematik salah satunya menata spot-spot pariwisata di pesisir Selatan. Ada pembagian zonasi, misalnya Pantai Sepanjang rencananya dikembangkan sebagai lokasi sport tourism. "Jadi ini momentum yang sangat bagus untuk menata pariwisata di Gunungkidul. Apalagi pemerintah mentargetkan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019 nanti," katanya





[Sumber]

0 komentar:

Posting Komentar